Candi Abang

Cagar Budaya Tidak Bergerak
04 Maret 2022 04 Maret 2022
Bagikan

1 / 3
Situasi Situs Candi Abang tampak dari barat daya (Foto: Dok. BPCB DIY 2012)
2 / 3
Kegiatan ekskavasi di Situs Candi Abang (Foto: Dok. BPCB DIY 2017)
3 / 3
Struktur yang berhasil ditampakkan dari kegiatan ekskavasi di Candi Abang (Foto: Dok. BPCB DIY 2018)
KETERANGAN

Situs Candi Abang terletak di puncak bukit berukuran tinggi 6 m dan diameter 40 m, di dusun Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman. Candi ini berada pada koordinat UTM 49 X : 0441409 dan Y : 9136606. Penamaan Candi Abang oleh masyarakat, karena bahan penyusun candi tersebut menggunakan batu bata yang berwarna merah ( merah dalam bahasa Jawa disebut “abang”). Penggunaan batu bata sebagai material penyusun candi, menjadi keunikan bagi Candi Abang dibandingkan dengan candi-candi lainnya. Pada umumnya candi-candi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan batu andesit sebagai material penyusunnya.

Data tentang situs Candi Abang sempat disebutkan oleh Ijzerman dalam  Beschrijving der Oudheden nabij de grens der residenties Soerakarta en Djogdjakarta (1891). Ijzerman menuliskan jika candi ini dibangun dari batu bata yang keras. Saat Ijzerman berkunjung, candi Abang hanya tersisa tumpukan puing-puing dan lantai bekas ruangan saja.

Sementara Rapporten Van Den Oudheidkundigen Dienst (ROD) in Nederlandsch-Indie (1915) juga menyebutkan bahwa candi ini telah runtuh dan menjadi puing-puing. Saat itu tidak ada temuan di atasnya. Tulisan NJ.Krom dalam Inleiding Tot De Hindoe-Javaansche Kunst (1920) menyebutkan bahwa Candi Abang memang telah runtuh. Candi Abang dalam catatan ini disebutkan sebagai salah satu peninggalan masa Hindu-Buddha yang berada di dataran Saragedug.

Penempatan bangunan candi di atas bukit, ada hubungannya dengan kepercayaan masyarakat pada masa Hindu-Buddha. Pada masa itu terdapat kepercayaan bahwa tempat yang tinggi dianggap sebagai tempat yang suci (tempat tinggalnya dewa-dewi

Di situs Candi Abang juga pernah ditemukan sebuah prasasti pada tahun 1932.  Menurut Rita Margaretha, prasasti tersebut berisi tentang pertanggalan dengan angka tahun 794 Saka atau 872 Masehi. Namun pertanggalan tersebut belum dapat dipakai sebagai pertanggalan tahun pendirian Candi Abang.

Data arkeologis lain diperoleh dari hasil testpit (ekskavasi), yaitu ditemukannya sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bahan batu bata. Terungkap juga bahwa Candi Abang terdiri dari satu bangunan, dengan satu halaman yang diperkirakan berukuran panjang 65 m dan lebar 64 m. Saat ini situs Candi Abang hanya tinggal gundukan tanah yang ditumbuhi rumput dan sebagian masih terlihat susunan batu candi yang terbuat dari batu bata.

Beberapa kegiatan ekskavasi penyelamatan yang dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada rentang tahun 2017-2018 menunjukkan perkiraan bentuk dan denah luasan bangunan. Bangunan Candi Abang berbentuk stupa. Hal ini memperkuat interpretasi bahwa Candi Abang adalah tempat ibadah bagi umat Buddha pada masa Mataram Kuno.

Candi Abang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan Keputusan Bupati Sleman nomor 14.7/Kep.KDH/A/2017.(snta)

Baca Juga

SD Tumbuh

BPCB DIY - 17 Februari 2021

Pada awal pendiriannya, bangunan SD Tumbuh dan bangunan SMA 11 Yogyakarta merupakan bangunan satu kesatuan yang didirikan pada tahun 1894 oleh...

Candi Kimpulan

BPCB DIY - 12 Januari 2021

Candi Kimpulan ditemukan pada 11 Desember 2009 di lokasi pembangunan perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Kaliurang Km. 14,5,...

Stasiun Lempuyangan

BPCB DIY - 18 Februari 2022

Stasiun Lempuyangan merupakan stasiun kereta api pertama di Yogyakarta yang digunakan untuk melayani transportasi penumpang dan barang. Bangunan...