Buletin Narasimha No. 14/XIV/2021

buletin 18 Maret 2022 Bagikan


Judul : Bergiat Menyingkap Khazanah Budaya
Edisi : No. 14/XIV/2021
Penerbit : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta
Catatan Redaksi :
Unduh : file berkas

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki khazanah budaya yang melimpah, yaitu beragam warisan budaya bersifat tak benda (intangible) dan beraneka warisan budaya bendawi (tangible). Warisan budaya bendawi antara lain berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan. Bermacam jenis warisan budaya bendawi tersebut berasal dari berbagai masa, mulai dari prasejarah, klasik (Hindu-Buddha), Islam, kolonial, hingga kemerdekaan.

Warisan budaya bendawi tinggalan dari generasi dahulu bisa sampai kepada generasi sekarang tidak melalui cara “instan”. Artinya, warisan budaya bendawi tidak semuanya diwariskan secara langsung dalam kondisi baik, dari generasi ke generasi. Warisan budaya bendawi diperoleh melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stakeholder), antara lain pemerintah, komunitas, dan masyarakat umum, untuk menyingkap keberadaannya.

Tidak jarang warisan budaya bendawi berupa benda, struktur, dan bangunan ditemukan sudah dalam kondisi rusak. Berbagai tinggalan budaya dari peradaban Mataram Kuno dan Mataram Islam berwujud candi, situs permukiman kuno, petirtaan, benteng, pesanggrahan, dan sebagainya banyak ditemukan dalam keadaan runtuh. Bahkan beberapa di antaranya ditemukan dalam posisi terpendam material vulkanik dari erupsi Gunung Merapi yang terjadi berulang kali. 

Untuk menyingkap keberadaan warisan budaya bendawi dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pelestarian. Misalnya, guna menyingkap warisan budaya bendawi yang masih terpendam bisa dengan cara ekskavasi penyelamatan (penggalian arkeologi). Untuk mengungkap bentuk asli, tata letak, gaya, dan teknik pengerjaan dari sebuah struktur maupun bangunan yang komponen penyusunnya sudah ditemukan, bisa dilakukan dengan cara merekonstruksinya melalui kegiatan pemugaran.

Masih banyak wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang belum terdata potensi warisan budaya bendawinya. Tidak menutup kemungkinan adanya warisan budaya di daerah-daerah itu yang masih tersembunyi. Oleh karena itu, untuk melacak keberadaannya maka perlu digiatkan inventarisasi di wilayah yang diduga banyak mengandung warisan budaya bendawi.

Penyingkapan warisan budaya bendawi tak hanya mencakup aspek fisiknya saja, tetapi juga meliputi aspek nilai pentingnya. Tidak jarang warisan budaya bendawi yang secara fisik sudah kasatmata, namun tidak diperhitungkan keberadaannya karena nilai pentingnya belum diketahui. Akibatnya, keberadannya bisa terancam oleh berbagai kepentingan yang berusaha menyingkirkannya karena dianggap “tidak bernilai”. Maka dari itu, untuk menggali nilai penting (nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama ,dan kebudayaan) dari sebuah warisan budaya bendawi perlu dilakukan kegiatan pendataan atau perekaman data yang komprehensif pada objek tersebut.

Tersingkapnya keberadaan fisik dan nilai penting dari warisan budaya bendawi tidak terlepas dari peran serta masyarakat. Laporan dari masyarakat tentang keberadaan warisan budaya merupakan “informasi berharga” bagi instansi yang berwenang untuk menyingkap lebih mendalam tentang objek tersebut melalui berbagai kegiatan pelestarian antara lain: pendataan, pemetaan, pemugaran, inventarisasi, dan ekskavasi penyelamatan.

Informasi dari masyarakat menjadi kunci utama dalam pelestarian warisan budaya bendawi. Beberapa candi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, kini berhasil direkonstruksi hingga dapat berdiri kembali, adalah berawal dari laporan warga masyarakat yang menemukannya saat beraktivitas menggali tanah untuk keperluan tertentu. Sebagian besar candi-candi saat ditemukan sudah ambyar dan terpendam. Sudah sepantasnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian warisan budaya diapresiasi. Salah satunya dengan memberikan kompensasi. Pelestarian warisan budaya tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan butuh keterlibatan berbagai pihak untuk bekerja sama dengan kompak.

Baca Juga