Monografi Pesanggrahan-Pesanggrahan Keraton Yogyakarta

buku 29 Juli 2021 Bagikan


Judul : Monografi Pesanggrahan-Pesanggrahan Keraton Yogyakarta
Edisi : Edisi Cetakan Kedua, 2020
Penerbit : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta
Catatan Redaksi :
Unduh : file berkas

Pesanggrahan bagi suatu kerajaan adalah salah satu komponen ataupun fasilitas penting bagi keraton. Kerajaan-kerajaan di wilayah nusantara dilengkapi dengan taman-taman yang bersifat eksklusif yaitu tidak diperuntukkan bagi kalangan rakyat biasa. Pesanggrahan dibangun dengan memperhatikan faktor privasi dan keamanan. Fungsi utama dari pesanggrahan yaitu sebagai tempat peristirahatan raja beserta keluarganya, disamping itu juga berfungsi sebagai tempat rekreasi atau pesiar, tempat pertahanan, dan filosofis-spiritual. Fungsi sebagai tempat pertahanan dapat diketahui dari keletakan bangunan pesanggrahan, tata ruang, bentuk gugusan bangunan, kelengkapan fasilitas untuk pertahanannya (benteng tinggi, tempat penjagaan, dan adanya baluwerti atau bastion). Pesanggrahan-pesanggrahan yang dimaksud di atas terutama di buat pada era pemerintahan Hamengku Buwono I dan Hamengku Buwono II.

Karakteristik atau ciri-ciri fisik bangunan pesanggrahan tinggalan Hamengku Buwono I dan Hamengku Buwono II memiliki kesamaan yaitu strukturnya terbuat dari bahan batu bata, baik dinding ataupun atapnya. Pesanggrahan yang didirikan pada masa pemerintahan Hamengku Buwono VI yaitu Pesanggrahan Ambarbinangun di Tirtonirmolo, Bantul, sedangkan masa pemerintahan Hamengku Buwono VII dibangun Pesanggrahan Ambarrukma. Kedua pesanggrahan tersebut di atas, menggunakan material beragam yaitu struktur menggunakan kayu dengan dinding dari bahan batu bata. Khusus untuk Pesanggrahan Ambarrukma di buat stereotip dengan bangunan-bangunan dalem pangeran. Untuk bentuk bangunannya juga beragam yaitu atap limas dan bangunan untuk kepentingan spiritual berbentuk tajuk.

Pembuatan buku Monografi Pesanggrahan-pesanggrahan Keraton Yogyakarta ini bertujuan untuk memperkenalkan tinggalan budaya yang masih tersisa dari jejak-jejak sejarah panjang Keraton Yogyakarta. Melalui monografi ini kita dapat mengetahui berbagai informasi penting, baik aspek kesejarahan, keletakan gugusan bangunan, ciri-ciri arsitektur, fungsi, dan nilai penting dari pesanggrahan-pesanggrahan tersebut. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh partisipasi atau peran serta dan dukungan masyarakat dalam ikut menjaga dan melestarikan berbagai warisan budaya tersebut.

Pesanggrahan sebagai bagian bukti keanekaragaman tinggalan pusaka budaya di wilayah Yogyakarta, merupakan aset potensial yang dimiliki masyarakat Yogyakarta. Melalui buku monografi ini pembaca diajak menyelami suatu bukti tinggalan sebuah episode sejarah Keraton Yogyakarta. Memahami bukti-bukti tinggalan sejarah ataupun pusaka budaya pada dasarnya merupakan pijakan dalam mengenali masa kini serta menatap masa depan. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca kami harapkan guna penyempurnaan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat dan memberikan kontribusi dalam membangun rasa handarbeni pusaka budaya kita.

Baca Juga